topbella

Kamis, 26 Mei 2016

Pengembangan Silabus Berkelanjutan

Nama Mahasiswa   : Krida Salsabila
NIM                         : 13.03.2889
Fakultas                   : Tarbiyah
Jurusan                    : Pendidikan Agama Islam
Kelas                        : 6 B
Nama Mata Kuliah : Pengembangan Silabus
Dosen Pengampu    : Dr. H. Dadang Gani, S.Pd.I., M.Ag.
Waktu                      :

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahim .
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul: Pengembangan Silabus Berkelanjutan.
Dalam pengerjaan makalah ini, kami kerjakan dengan semaksimal mungkin dengan segala kemampuan yang kami miliki, berusaha agar dapat menghasilkan makalah yang terbaik, walaupun demikian kami  menyadari bahwa hasil penulisan makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna menjadi acuan dan bekal pengalaman bagi kami di masa yang akan datang.
Juga dengan rasa hormat menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah banyak membantu baik berupa moril maupun materil dalam penulisan makalah ini, terutama kepada dosen khususnya dosen mata kuliah:"Pengembangan Silabus, yaitu Dr. H. Dadang Gani, S.Pd.I., M.Ag.
Akhir kata dari kami, semoga keberadaan makalah  ini bermanfaat bagi rekan-rekan khususnya bagi kami selaku penyusun.
Wassalamualaikum Wr. Wb


                                                                                            Ciamis,    Mei 2016


                                                                                             Penyusun


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
B.  Rumusan Masalah
C.  Tujuan Penulisan
D.  Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A.  Prosedur Penyusunan Silabus Berkelanjutan
B.  Prosedur Penyusunan Bahan Pembelajaran
C.  Contoh Model Silabus Berkelanjutan
BAB III PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Proses pembelajaran merupakan suatu sistem yang mana untuk pencapaian standar proses untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat dimulai dengan merencanakan program pengajaran lebih baik, terperinci dan terencana. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan perangkat pemelajaran. Perangkat pembelajaran merupakan salah satu alat penunjang keberhasilan pembelajaran di kelas yang berisi mengenai infornasi proses pembelajaran di kelas. Perangkat pembelajaran terdiri dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, media dan sumber belajar. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengembangan silabus untuk pembelajaran yang lebih baik. 
Silabus adalah suatu rencana yang mengatur kegiatan pembelajaran danpengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar dari suatu mata kuliah. Silabusini merupakan bagian dari kurikulum sebagai penjabaran standar kompetensike dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian hasil belajar. Dengan demikian pengembangan silabus ini minimal harus mampu menjawab apakah yang harus dimiliki oleh peserta didik,bagaimana cara membentuk kompetensi tersebut, dan bagaimana cara mengetahui bahwa peserta didik telah memiliki kompetensi itu.Silabus akan sangat bermanfaat sebagai pedoman bagi pengajar karena berisi petunjuk secara keseluruhan mengenai tujuan dan ruang lingkup materi yang harus dipelajari oleh peserta didik. Selain itu, juga menerangkan tentang kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi yang harus digunakan dalam proses pembelajaran kepada peserta didik. Dengan berpedoman pada silabus diharapkan pengajar akan dapat mengajar lebih baik, tanpa khawatir akan keluar dari tujuan, ruang lingkup materi, strategi belajar mengajar, atau keluar dari sistem evaluasi yang seharusnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa saja prosedur penyusunan silabus berkelanjutan?
2. Apa saja prosedur penyusunan bahan pembelajaran?
3. Apa saja contoh model silabus berkelanjutan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui karakteristik pemimpin dalam islam.
2. Untuk mengetahui cara memilih pemimpin dalam islam.
3. Untuk mengetahui  akhlak kepemimpinan dalam islam.
4. Untuk mengetahui peraturan pemimpin menurut islam.

D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini metode penulisan yang kami gunakan adalah metode kepustakaan, dengan mencari bahan-bahan materi dari berbagai sumber, baik media cetak ataupun internet.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Prosedur Penyusunan Silabus Berkelanjutan
Prosedur penyusunan silabus berkelanjutan ada beberapa macam antara lain:
1.    Prinsip Pengembangan Silabus
·     Ilmiah (Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan)
·      Relevan Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik)
·    Sistematis (Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi
·  Konsisten (Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta teknik dan instrumen penilaian)
·   Memadai (Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD)
·    Aktual dan Kontekstual (Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi)
·  Fleksibel (Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat)
·     Menyeluruh (Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor)
2.    Unit Waktu Silabus
·   Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk setiap mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
·  Penyusunan silabus suatu mata pelajaran memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3.    Pengembangan Silabus
·    Pengembangan silabus dilakukan oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada satu sekolah atau beberapa sekolah pada kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
4.    Komponen Silabus
·    Komponen yang berkaitan dengan kompetensi yang hendak dikuasai, meliputi :
a.    SK
b.    KD
c.    Indikator
d.   Materi Pembelajaran
·  Komponen yang berkaitan dengan cara menguasai kompetensi, memuat pokok pokok kegiatan dalam pembelajaran.
·      Komponen yang berkaitan dengan cara mengetahui pencapaian kompetensi, mencakup :
a.    Teknik Penilaian :
*Jenis Penilaian
*Bentuk Penilaian
b.    Instumen Penilaian
·      Komponen Pendukung, terdiri dari :
a.    Alokasi waktu
b.    Sumber belajar
5.    Langkah-Langkah Pengembangan Silabus
·      Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
·      Mengidentifikasi Materi Pembelajaran
·      Melakukan Pemetaan Kompetensi
·      Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
·      Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
·      Penentuan Jenis Penilaian
·      Menentukan Alokasi Waktu
·      Menentukan Sumber Belajar
·      Pengembangan Silabus Berkelanjutan
6.    Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
·      Keterkaitan antara SK dan KD dalam mata pelajaran
·      Keterkaitan antar KD pada mata pelajaran
·      Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi
7.    Mengidentifikasi Materi Pembelajaran
·      Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD dengan mempertimbangkan:
a)    Potensi peserta didik
b)   Karakteristik mata pelajaran
c)    Relevansi dengan karakteristik daerah
d)   Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spritual peserta didik
e)    Kebermanfaatan bagi peserta didik
f)    Struktur keilmuan
g)   Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran
h)   Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan
i)     Alokasi waktu.
8.    Melakukan Pemetaan Kompetensi
·      Mengidentifikasi SK, KD dan materi pembelajaran
·      Mengelompokkan SK, KD dan materi pembelajaran
·      Menyusun SK, KD
9.    Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
·      Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah:
a)  Disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik (guru), agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
b)  Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai KD.
c) Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
d)   Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi.
10.     Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
·    Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
·  Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
·  Kata Kerja Operasional (KKO) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkret ke abstrak (bukan sebaliknya).
·      Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator.
11.     Penentuan Jenis Penilaian
·      Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator.
·  Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, dan penilaian diri.
12.     Menentukan Alokasi Waktu
·     Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD.
·    Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.
13.     Menentukan Sumber Belajar
·    Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penulisan buku sumber harus sesuai kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia.
·  Penentuan sumber belajar didasarkan pada SK dan KD serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
14.     Pengembangan Silabus Berkelanjutan
·    Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan menentukan bahan ajar dalam berbagai bentuk (Lembar Kerja Siswa, Lembar Tugas Siswa, Lembar Informasi, dan lain-lain), sesuai dengan strategi pembelajaran dan penilaian yang akan digunakan.

B.  Prosedur Penyusunan Bahan Pembelajaran
Prosedur Penyusunan Bahan pembelajaran antara lain:
1.    Memahami Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, Silabus, Program Semester, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyusun bahan pembelajaran adalah memahami standar isi (Permen 22/2006) berarti memahmai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini telah dilakukan guru ketika menyusun silabus, program semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Memahami standar kompetensi lulusan (Permen 23/2006) juga telah dilakukan ketika menyusun silabus. Walaupun demikian, ketika menyusun bahan pembelajaran, dokumen-dokumen tersebut perlu dihadirkan dan dibaca kembali. Hal itu akan membantu penyusun bahan ajar dalam mengaplikasikan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Selain itu, penyusunan bahan ajar akan terpandu ke arah yang jelas, sehingga bahan ajar yang dihasilkan benar-benar berfungsi.
2.    Mengidentifikasi Jenis Bahan Pembelajaran Berdasarkan Pemahaman terhadap Poin
Mengidentifikasi jenis materi pembelajaran dilakukan agar penyusun bahan pembelajaran mengenal dengan tepat jenis-jenis materi pembelajaran yang akan disajikan. Jenis materi pelajaran secara umum disajikan oleh para guru terdiri:
a)  fakta adalah segala yang berwujud kenyataan dan kebenaran meliputi nama-nama obyek, peristiwa, lambang, nama tempat, nama orang dan lain sebagainya. Contoh mulut, paru-paru.
b)   konsep adalah segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran meliputi definisi, pengertiam, ciri khusus, hakekat, inti/isi dan sebagainya. Contoh hutan hujan tropis di indonesia sebagai sumber plasma nutfah, usaha-usaha pelestarian keanekaragaman hayati indonesia secara in-situ dan ex-situ dsb.
c)   prinsip adalah berupa hal-hal pokok dan memiliki posisi terpenting meliputi dalil, rumus, paradigma, teori serta hubungan antar konsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh hukum handy-weinberg.
d) prosedur merupakan langkah-langkah sistimatis atau berurutan dalam melakukan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh langkah-langkah dalam menggunakan metode ilmiah yaitu merumuskan masalah, observasi, hipotesis, melakukan eksprimen dan menarik kesimpulan.
e) sikap atau nilai merupakan hasil belajar aspek sikap contoh pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan yaitu pengertian liungkungan komponen ekosistem lingkungan hidup sebagai sumberdaya pembangunan berkelanjutan.
3.    Melakuan Pemetaan Materi
Hasil identifikasi dipetakan dan diorganisasikan sesuai dengan pendekatan yang dipilih (prosedural atau hierarkis). Pemetaan materi dilakukan berdasarkan standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan standar kompetensi lulusan (SKL). Tentu saja di dalamnya terdapat indikator pencapaian yang telah dirumuskan pada saat menyusun silabus. Jika ketika menyusun silabus telah terpeta dengan baik, pemetaan tidak diperlukan lagi. Penyusun bahan ajar tinggal mempedomani yang ada pada silbus. Akan tetapi jika belum terpetakan dengan baik, perlu pemetaan ulang setelah penyusunan silabus.
4.    Menetapkan Bentuk Penyajian
Langkah berikutnya yaitu menetapkan bentuk penyajian. Bentuk penyajian dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Bentuk-bentuk tersebut adalah seperti buku teks, modul, diktat, lembar informasi, atau bahan ajar sederhana. Masing-masing bentuk penyajian ini dapat dilihat dari berbagai sisi. Di antaranya dapat dilihat dari sisi kompleksitas struktur dan pekerjaannya. Bentuk buku teks tentu lebih kompleks dibandingkan dengan yang lain. Adapun yang paling kurang kompleksitasnya adalah bahan pembelajaran sederhana.
5.    Menyusun Struktur (Kerangka) Penyajian
Jika bentuk penyajian sudah ditetapkan, penyusun bahan pembelajaran menyusun struktur atau kerangka penyajian sesuai dengan bentuk penyajian yang dipilih. Kerangka-kerangka itu diisi dengan materi yang telah diatetapkan. Struktur atau kerangka penyajian disusun berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta indikator yang ingin dicapai sesuai dengan rumusan pada silabus mata pelajaran atau bidang studi.
6.    Membaca Buku Sumber
Membaca buku sumber diperlukan untuk menentukan materi yang diisikan pada kerangka struktur penyajian. Buku sumber dapat dicari diperpustakaan atau toko-toko buku. Bahan materi ajar dapat pula dicari melalui internet. Penyusun bahan ajar harus mampu menseleksi dan merekayasa kembali materi yang dipilih sesuai dengan pemahaman sendiri dan menyajikan kembali dalam gaya bahasa sendiri. Kegiatan pengisian dilakukan setelah penyusunan Struktur Penyajian.
7.    Membuat Draft Bahan Pembelajaran
Kegiatan membuat draf (termasuk membahasakan, membuat ilustrasi, gambar) ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya. Pengisian atau penulisan materi dalam kerangka struktur penyajian tidak harus berurutan dari bab pendahuluan sampai bab akhir. Tapi dimulai darimana saja pada kerangka struktur penyajian sesuai dengan materi sajian yang telah dikumpulkan.
8.    Merevisi (Menyunting) Bahan Pembelajaran
Meneliti ulang draf yang telah jadi seraya melakukan perbaikan (revisi) jika diperlukan. Materi sajian yang dianggap masih perlu dikembangkan dan memerlukan tambahan uraian atau penjelasan dari beberapa buku sumber perlu diberi tanda semisal penebalan dengan warna merah umpamanya. Urutan alenia atau paragraf tulisan jika dinilai tidak logis dapat dipertukarkan letak atau tempatnya.
9.    Mengujicobakan Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran yang sudah disusun sesuai dengan struktur kerangka penyajian itu, selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui tingkat kelayakannya sebagai bahan pembelajaran.Uji kelayakan materi ajar ini dimaksudkan untuk mengvaluasi apakah dapat difahami dan sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuan peserta didik. Apabila materinya dinilai sulit, contohnya kurang relevan, uraiannya masih perlu ditambahkan, maka materi sajiannya selanjutnya masih perlu direvisi atau disesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Kemudian diujicobakan kembali, jika dianggap sudah layak dan dapat diterima oleh pesrta didik, maka selanjutnya dilakukan rivisi ulang dan finalisasi.
10.    Merevisi dan Menulis Akhir (Finalisasi)
Melakukan perbaikan terhadap materi draf yang telah diujicobakan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Kemudian melakukan kegiatan penulisan akhir (finalisasi). Selanjutnya setelah prosedur sebagaimana tersebut telah dilakukan, maka bahan ajar berupa buku teks, modul, diktat, atau bahan ajar sederhana dapat dipergunakan secara konsisten atau berkelanjutan untuk pembelajarkan peserta didik.
  
C.      Contoh Model Silabus Berkelanjutan



BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
Silabus adalah suatu rencana yang mengatur kegiatan pembelajaran danpengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar dari suatu mata kuliah. Silabusini merupakan bagian dari kurikulum sebagai penjabaran standar kompetensi ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian hasil belajar.

B.  Kritik dan Saran
Bila ada kesalahan dalam pembuatan makalah salah tolong berikan input-inputnya agar pembuatan makalah saya menjadi lebih baik lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Ditjen Dikdasmenum, 2004, Pedoman Umum Pemilihan dan Pemanfaatan bahan Ajar, Depdiknas: Jakarta.
Gintings, Abdorrakhman, 2008, Essensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Humaniora: Bandung.
Pannin, Paulina dan Purwanto, 2001, Penulisan Bahan Ajar, Pusat antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Ditjen Dikti Diknas: Jakarta.
Prastowo, Andi, 2011, Panduan Kreaftif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Diva Press: Jogjakarta

Sabtu, 14 Mei 2016

Tafsir Al-Anbiya 25 tentang persamaan prinsip/misi risalah para Nabi dan Al-Baqarah 151 tentang peran dan fungsi risalah Nabi Muhammad SAW

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Manusia memang telah diberi hidayah oleh Allah berupa akal, namun ia tidak dapat menentukan jalan hidupnya sendiri karena kemampuan akal manusia amat terbatas. Bila manusiadibiarkan mengatur hidupnya sendiri, maka kehidupan dimuka bumi ini akan kacau karena antarasatu dan yang lain akan saling berbeda pendapat, mau mengang sendiri, dan menyalahkan oranglain.
Karena keterbatasan kemampuan manusia ini, maka Allah berkenan mengutus rasul-rasul- Nya untuk membawa risalah-Nya berupa peraturan-peraturan dan ajaran-ajaran. Peraturan dan ajaran itu harus ditaati oleh setiap orang demi terbentuknya suatu masyarakat yang aman dan tentram sehingga dengan peraturan dan ajaran itu manusia dapat membentuk dan mengembangkan peradabannya.
Setiap rosul berkewajiban menyampaikan risalahnya kepada kaum dimana ia diutus. Khusus untuk nabi Muhammad, ia harus menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia, karena ia tidak hanya diutus untuk kaumnya, tetapi untuk seluruh manusia. tidak masalah bila ternyata kaumnya itu menolak, kewajiban para rasul hanyalah menyampaikan risalah Allah.
Hal itu pula yang ditegaskan oleh Allah kepada Rosulullah Saw, saat beliau bersedih ketika menjumpai kaumnya menolak risalah yang disampaikan-nya. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk menyembah Allah semata-mata. Dan tidak ada suatu dalil pun, baik dalil berdasarkan akal ataupun dalil yang diambil dari kitab-kitab suci yang disampaikan oleh semua rasul-rasul Allah, yang membenarkan kepercayaan selain kepercayaan tauhid kepada Allah Swt.

Rumusan Masalah
Adapaun rumusan masalah dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana persamaan prinsip/misi risalah para rosul menurut tafsir Qs. Al-Anbiya ayat 151?
Bagaimana tugas dan fungsi risalah Nabi Muhammad SAW berdasarkan Qs. Al-Baqarah ayat 151?
Bagaimana Kontekstualisasi dua ayat tersebut dalam kehidupan nyata?

Manfaat dan Tujuan
Adapun tujuan dari Pembuatan Makalah ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui persamaan prinsip/misi risalah para rosul menurut tafsir Qs. Al-Anbiya ayat 151.
Untuk mengetahui tugas dan fungsi risalah Nabi Muhammad SAW berdasarkan Qs. Al-Baqarah ayat 151.
Untuk mengetahui Kontekstualisasi dua ayat tersebut dalam kehidupan nyata.

Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini metode penulisan yang kami gunakan adalah metode kepustakaan, dengan mencari bahan-bahan materi dari berbagai sumber, baik media cetak ataupun internet.

BAB II
PEMBAHASAN

Persamaan Prinsip/Misi Kerisalahan Para Rasul
Qs. Al- Anbiya 25
Secara etimologi, risalah berarti surat yang dikirim atau karya tulis. Namun menurut terminologi syaria’at, risalah adalah ajaran-ajaran Allah SWT yang disampaikan-Nya melalui perantara seseorang atau beberapa orang rasul untuk mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah Swt, sesamanya, dan makhluk lingkungannya.
Sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Anbiya.25 Allah berfirman:
(((((( ((((((((((( ((( (((((((( ((( ((((((( (((( ((((((( (((((((( ((((((( (( ((((((( (((( (((((( (((((((((((((
Artinya “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
 Allah telah berfirman bahwasanya setiap rasul akan selalu memulai dalam setiap dakwahnya dengan ajaran ketauhidan. dan mereka senantiasa berkata kepada kaumnya sembahlah allah, sekali-kali tidak ada Allah bagimu selain-nya.
Hemat penulis dengan menganalisis ayat ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tugas para Nabi dan Rasul Allah, sejak zaman Nabi Adam sampai pada zaman Nabi Muhammad adalah menegakkan tauhid yaitu meng-esakan Allah. Artinya, semua Nabi dan Rasul Allah bertugas untuk menyeru manusia untuk menyembah Allah dan melarang mempersekutukan-Nya karena tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan tak ada seorang Nabi pun yang tidak mengawali dakwahnya dengan ajakan tauhid.
Dalam tafsir al-maraghi dijelaskan bahwa sesungguhnya seluruh rasul diutus dengan membawa kemurnian ibadah dan tauhid. Allah tidak menerima selain-nya dari mereka.
Hemat penulis, bahwa tafsir ini menjelaskan bahwa Allah menerima semua ibadah dan amal yang dilakukan seseorang yang memiliki keimanan di hati bahwa hanya Allah Tuhan seluruh alam, sedangkan bila di hati seseorang tidak ada iman kepada Allah, maka sebanyak apapun amal dan ibadah yang dilakukannya akan ditolak dan menjadi sia-sia.
Selain itu,dalam tafsir jalalain dijelaskan pula lafal nuuhii dibaca yuuhaa, sehingga bahwasanya tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku olehmu sekalian, mengandung makna tauhidkanlah atau rasakanlah aku.
Sedang arti al-Islam (bahasa arab) mengandung pengertian perkataan al-Islam dan al-inqiyad serta al-ikhlas 3 sikap, yaitu : berserah diri, tunduk dan patuh dan tulus. Maka dalam Islam harus ada sikap berserah diri kepada allah yang maha Esa, bukan kepada yang lain.
Hemat penulis, dari kepercayaan terhadap adanya keesaan Allah atau tauhid yaitu pemusatan sikap pasrah secara totalitas hanya kepada allah.BDan inilah hakekat ucapan laa ilaaha ilaa llah, sehingga jika seseorang berserah diri kepada Allah dan juga kepada yang lain, dia adalah musyrik. Maka, Iman kepada Allah ini wajib diwujudkan dalam perilaku tidak beribadah kepada siapa atau apapun selain kepada Allah.
Maka ajaran al-Islam dalam pengertian semacam ini adalah esensi semua agama para nabi dan rosul. dan dari sini pula dapat dipahami bahwa penganut agama selain al-islam atau tanpa diserta sikap pasrah dan berserah diri kepada allah adalah suatu sikap yang tidak sejati dankarenanya ditolak, meskipun secara formal kemasyarakatan beragama islam. itulah yangditegaskan allah dalam surat ali Imron ayat 19 yang artinya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah islam”.
Sikap berserah diri kepada "Tuhan yang dalam bahasa arab disebut al-Islam adalahmerupakan esensi semua agama yang benar, sebagaimana umat terdahulu yang telah menerima kitab suci dari Allah melalui para nabi dan rosul-nya, yang dalam istilah teknis disebut ahl al- Kitab, kemudian mereka berselisih. Hal ini sesuai dengan ungkapan surat ali Imron ayat 19 yang artinya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”.
Dalam kaitannya dengan ayat tersebut, Muhammad Asad menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat itu semula menganut doktrin kemaha-Esaan Allah dan berpandangan bahwa sikap berserah diri manusia kepada-Nya Islam dalam makna aslinya adalah esensi semua agama yang benar. Perbedaan pendapat yang terjadi sesudahnya adalah akibat kebanggaan sekretarian dansikap saling menolak. Adanya persamaan prinsip dasar pengakuan terhadap adanya keesaan Allah atau tauhiddan konsekuensi logikanya yaitu islam atau sikap berserah diri kepada-Nya bagi semua agamayang dibawa oleh para Nabi dan Rasul termasuk sejak sebelum islam dibawah oleh NabiMuhammad saw, maka tampaklah terdapat titik temu pada semua agama tersebut, yaitu terletak  pada agama islam, sikap berserah diri secara tulus kepada Allah. tanpa adanya sikap berserah diri kepada Allah ini, berarti pula tidak adanya pengakuan terhadap adanya keesaan Tuhan. dan sikap berserah diri kepada Allah itulah merupakan satu-satunya sikap keagamaan yang benar, dan sebaliknya sikap selain itu, dengan sendirinya tertolak.
Tauhid itu merupakan kaidah dasar dari kaidah, sejak Allah mengutus para rasul kepadamanusia. "idak ada perubahan dan pergantian dalam perkara itu, yaitu pengesaan Allah yang mengatur dan Allah yang disembah. Jadi, tidak terpisah antara keyakinan rububiyah dan uluhiah. Maka, tidak ada tempat sedikitpun untuk melakukan syirik dalam perkara uluhiah dan perkara ibadah. itu merupakan kaidah yang tetap dan konsisten sebagaimana kokoh dan konsistennya sistem alam semesta yang berhubungan dengan sistem akidah ini. Bahkan, system akidah merupakan bagian dari sistem alam semesta.
Persamaan prinsip ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan rosul itu, yang menjadi inti ajarannya, yaitu ajaran tauhid, tauhid Pengesaan Allah merupakan dasar ajaran agama, yang mana Allah tidak menerima ajaran-ajaran agama golongan umat terdahulu sampai sekarang yangtidak disertai dengan dasar tauhid. oleh karena itu, Allah mengutus para rasul dan menurunkankitab-kitab suci.tauhid merupakan suatu kepercayaan terhadap adanya keesaan Tuhan. semua Nabi dan rosul sejak Nabi Adam as, sampai Nabi Muhammad saw menyeru kepada manusia untuk meyakini atau mempercayai kepada keesaan Tuhan, dan menyeru tentang keharusan manusiauntuk tunduk hanya kepada-Nya saja.

Tugas dan Fungsi Risalah Nabi Muhammad SAW
Menurut Qs. Al-Baqarah : 151
(((((( ((((((((((( ((((((( ((((((( (((((((( ((((((((( (((((((((( ((((((((((( (((((((((((((( ((((((((((((((( ((((((((((( (((((((((((((( (((((((((((((( ((( (((( (((((((((( ((((((((((( (((((  

151. “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”
Hemat penulis, ayat ini menyatakan bahwa kesempurnaan Allah kepada manusia telah sempurna dipandang dari segi rohmat Allah yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang sempurna dan yang paling diridhoi serta telah diutusNya Nabi terakhir sebagai pembawa risalah kebenaran sebagai petunjuk bagi manusia yang mengharapkan keberuntungan di dunia maupun di akhirat. adapun perincian nikmat yang dimaksud adalah sebagai berikut :

Dengan penjelasan sebagai berikut:
Nikmat Allah untuk menghadap ke kiblat dan penyempurnaan syari’at bukanlah hal yang baru dan bukan pertama kali, bahkan dia juga telah memberikan ushulu ni’am. Asas nikmat dan penyempurnanya, yaitu dengan mengutus seorang rasul yang sudah dikenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya, kesempurnaan dan sikap tulusnya.
Ayat-ayat tersebut menerangkan mana yang hak dan mana yang batil, mana petunjuk dan mana kesesatan, menerangkan tentang tauhid, tentang kebenaran rosul-Nya sertakewajiban beriman kepadanya, menerangkan tentang hari kiamat dan hal-hal ghaib sertamenerangkan syariat untuk maslahat mereka di diunia sehingga mereka memperoleh hidayah yang sempurna dan ilmu yang yakin..
Maksudnya menyucikan akhlak dan jiwa mereka dengan mendidiknya di atas akhlak yang mulia dan membersihkannya dari akhlak yang tercela yang mengotori jiwa.Misalnya dengan membersihkan mereka dari syirk kepada tauhid, dari riya kepada ikhlas, dari dusta kepada kejujuran, dari khianat kepada amanah, dari sombong kepada tawadhu dan dari semua akhlak buruk kepada akhlak yang mulia serta perbaikan- perbaikan lainnya.rosul dengan agama islamnya membersihkan masyarakat dari riba, memakan yangharam, menipu, merampas, dan menyerobot hak orang lain yang semuanya itu merupakan kotoran yang melumpuri ruh, perasaan, masyarakat, dan kehidupan. Islam membersihkan mereka dari ke zdoaliman dan ke aniayaan serta menyebarkan keadilan dan kebersihan, yang belum pernah didengarnya di bawah naungan islam, hukum dan system islam, antara lain:
Sebagai Pembawa dan penyempurna ajaran
Nabi-nabi diutus oleh Allah untuk menjadi penghubung antara manusia dengan Penciptanya. Allah ingin agar manusia dapat memenuhi segala kebutuhannya, baik itukkebutuhan fisik maupun kebutuhan naluriah, secara benar sesuai dengan tujuan penciptaannya .
Sebagai Penyampaian Ajaran
Risalah yang diterima oleh Nabi Muhammad saw, yakni berupa Al-qur’an, tidak hanya diperuntukkan bagi beliau sendiri, namun juga untuk disampaikan kepada umat Beliau,yakni seluruh umat manusia. Sejak beliau menerima risalah tersebut sampai beliau meninggal selama 23 tahun 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah, ajaran-ajaran tersebut disampaikan kepada umat manusia sekaligus dipraktikkan 3melalui sunnah,yang tujuannya ialah memberikan kebahagiaan kepada umat manusia. Namun, sepeninggal beliau, tugas tersebut tidak akan pernah berhenti, namun harustetap dilanjutkan oleh umatnya. Ajaran islam adalah ajaran universal yang ditujukankepada seluruh umat manusia pada seluruh zaman. tugas yang terakhir ini menjadi tugas kita semua.
Sebagai Pemimpin Masyarakat
Selain bertugas membawa ajaran dan menyampaikan ajaran yang beliau terima, beliau juga bertugas memimpin masyarakat, dalam hal ini masyarakat Madinah, untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, baik itu Muslim maupun non-Muslim. Berbagaitugas pemerintahan yang mencakup politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dankeamanan beliau pimpin. syariat islam telah membimbing beliau untuk melaksanakan tugas-tugas itu secara sempurna pada zaman beliau dan wahyu pula yang memberikan panduan dan arahan kepada pemimpin-pemimpin setelah beliau untuk melanjutkan estafet dari tugas-tugas beliau ini. Karena syariat islam telah memiliki dasar-dasar yang sempurna untuk mewujudkan kemaslahatan, yakni pemeliharaan atas Agama (hifzudin “jiwa”), (hifzunnasl “keturunan”), (hifzul mal “harta”), (Hifzul Aql “akal”).

Kontekstualisasi
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa semua Nabi sejak zaman Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW membawa beban yang sama dari Allah yaitu ajaran tauhid yaitu meng-Esa-kan Allah. Meskipun ajaran yang dibawa Nabi sama, faktanya agama yang dianut jadi berbeda-beda, ada yang menyembah Allah, menyembah api, yesus, patung, sapi dll semua itu terjadi karena ulah manusia yang terkena bisikan syetan dan para pembantunnya yang telah dengan sengaja menyesatkan manusia lainnya dengan cara berdusta, mengubah firman Allah sehingga mereka jauh dari jalan yang benar. Di sisi lain Islam saat ini dipropaganda sebagai teroris oleh media sekuler yang umumnya dikuasai media nonmuslim dan sayangnya propaganda ini dapat mempengaruhi warga dunia bahwa Islam adalah agama yang radikal. Sehingga sulit bagi orang awam untuk kembali ke agama yang benar yaitu Islam seperti dalam QS. Ali Imran ayat 19 yang artinya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”, Lalu QS. Al-anbiya ayat 25 ini seolah memberi titik terang bagi siapa saja yang ingin kembali ke jalan-Nya. Seandainya manusia mau kembali ke jalan yang benar yaitu memeluk Islam maka jangan lihat apa yang umatnya lakukan tapi lihat dan pahami landasan agamanya yaitu kitab, kitab yang masih murni baik itu kitab agama Islam, kitab agama kristen, kitab agama budha dan lainnya. Pada dasarnya di dalam kitab semua agama mengajarkan tauhid meskipun dalam bahasa lain dan mengajak manusia kepada kebenaran, seandainya ditaati dan Allah memberikan hidayah maka akan sampai kepada Islam.
Namun disayangkan pula saat tak sedikit pula para pembesar agama menyelewengkan tugasnya atau berbohong untuk kepentingannya sendiri. Ada ulama yang berdakwah demi mendapatkan harta sehingga menyebarkan Islam yang dengan tidak ikhlas seperti tidak akan ceramah atau menjadi tidak bersemangat bila tidak ada bayaran, atau yang paling parah bila telah mendapat hidayah malah keluar dari Islam. contoh kecil dikalangan mahasiswa salah satunya seperti tidak mau memberikan ilmu agamanya bila tidak di depan forum besar agar keliatan eksis dan biar terkenal katanya (padahal Allah melaknat orang yang menyembunyikan ilmunya dan juga ini bertentangan dengan hadits Rasulullah yang artinya “sampaikanlah walau satu ayat”).
Menurut Al-quran surat Al-Anbiya ini tugas para Nabi adalah menyampaikan tauhid. Kita bisa membayangkan bagaimana beban para Nabi yang menyebarkan agama tauhid pastinya bukan di daerah yang beriman kepada Allah (kalau Allah mengutus para rosul di daerah yang masyarakatnya sudah beriman kan sama aja bohong) situasi yang berbeda di kala bertemu pasti akan ada suatu bentrokan dan ketegangan, yang menjadi sasaran bentrokan itu adalah Nabi bukan saja hanya mendapat siksaan mental maupun fisik bahkan juga dibunuh namun mereka tetap melaksanakan tugas dari Allah. Para Nabi adalah uswatun hasanah bagi kita. Maka, kita harus hidup kuat seperti mereka ikhlas menjalani cobaan, tetap bersyukur dikala suka maupun duka. Namun kita lihat juga di berita dan surat kabar kejadian murid sma bunuh diri atau jadi gila karena diputuskan pacarnya, seorang anak membunuh temannya karena hutang 1000 rupiah, itu cukup membuktikan betapa manusia zaman sekarang bermental rapuh dan goyah serta sudah tidak menghargai lagi arti sebuah nyawa manusia dibandingkan dunia yang fana.
Unsur yang terkandung pada ayat di atas adalah unsur tauhid yaitu yang berbunyi laa illaha illa llah kalimat yang mutlak dan menyelamatkan manusia dari praduga-praduga jahiliyah beban-beban animisme dan tekanan kurafat. Sudah tidak zaman dan tidak relevan lagi apabila menyembah kepada pohon besar, patung-patung, jimat dan lain sebagainya. hanya kepada Allahlah Tuhan yang wajib disembah. orang yang masih percaya takhayul, percaya khurafat, memohon kekayaan kepada pohon besar, berdo’a kepada kuburan dan menyediakan sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat dan sebagainya adalah orang orang yang amalnya akan ditolak dan akan menjadi sia-sia.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Qs. al- anbiya. 25  Menjelaskan bahwa persamaan prinsip ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan rosul itu, yang menjadi inti ajarannya, yaitu ajaran tauhid, tauhid Pengesaan Allah merupakan dasar ajaran agama, yang mana Allah tidak menerima ajaran-ajaran agama golongan umat terdahulu sampai sekarang yang tidak disertai dengan dasar tauhid.
Qs. Al-baqarah. 151. Menjelaskan bahwa mengenai tugas dan fungsi Kerisalahan NabiMuhammad saw yaitu menyucikan akhlak dan jiwa mereka dengan mendidiknya di atas akhlak yang mulia dan membersihkannya dari akhlak yang tercela yang mengotori jiwa.

Kritik dan Saran
Jika ada kesalahan dalam pembuatan makalah yang kami buat mohon berikan input-inputnya agar kedepannya menjadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

H.M. Quraish Shihab, 1992.Membumikan Al-Qur’an, Mizan: Bandung
H.Abudin Nata, 2002. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan,PT.Raja Grafindo Persad: Jakarta
Kitab Al-Qura’an Surat al-anbiya.25 dan Surat al-baqorah.151
Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, 2000. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, Gema Insani: Jakarta
Sayyid Quthb, 2000. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid I, PT.Gema Insani: Jakarta

Krida Salsabila
Lihat profil lengkapku